Minggu, 13 Maret 2016

MENANGANI TANTRUM TANPA ‘KESETRUM’

Menangani anak yang tantrum merupakan ujian bagi semua orang tua, terlebih jika anak kita seringkali “melakukannya” di khalayak ramai atau di depan umum. Adakalanya kita merasa malu, kesel, bahkan marah. Mungkin anda pernah atau sering menghadapi masalah seperti itu, disaat anda sedang dalam masalah penting, setidaknya pengalaman itu yang ingin kami bagi dalam jurnal ini. Bagaimana menangani anak yang tantrum tanpa “kesetrum”. Istilah ini untuk menggambarkan betapa emosionalnya kita ketika anak kita sedang tantrum.

Sebelum lebih jauh membahas hal ini, ada baiknya kita tengok pengertian tantrum menurut para ahli. Tantrum adalah hasil dari energi tinggi dan kemampuan yang tidak mencukupi dalam mengungkapkan keinginan atau kebutuhan "dalam bentuk kata-kata". Menurut R.J. Fetsch and B. Jacobson dari Colorado State University Extension yang mengatakan bahwa tantrum biasanya terjadi pada usia 2 sampai 3 tahun ketika anak-anak membentuk kesadaran diri. Balita belum cukup memahami kata "aku" dan "keinginan dirinya" tetapi sangat mudah untuk tahu bagaimana memuaskan apa yang diinginkan.

Pagi itu disaat warga Balikpapan sedang bereuforia dengan peristiwa Gerhana Matahari Total, saya mengajak anak-anak untuk ikut sholat sunnat gerhana. Tidak seperti biasanya Lapangan Merdeka penuh sesak dengan lautan manusia, sampai-sampai kendaraan kami tidak bisa menembus barikade manusia yang berjubel saat itu. Hingga akhirnya kami pun memarkir kendaraan sedapatnya, dan perjalanan menuju Masjid kami tempuh dengan berjalan kaki.

Sambil menggerutu dalam hati, kenapa sih kakak harus bela-belain shalat di Masjid milik Perusahaan BUMN itu?. Padahal di Masjid dekat tempat tinggal kami juga melaksanakan shalat gerhana, tanpa harus berdesak-desakan dan terganggu oleh hingar bingarnya orang yang tidak shalat gerhana. Qodarullah, kami pun tiba di pelataran Masjid yang sudah penuh dengan lautan manusia, sehingga kami bingung menentukan posisi shaff untuk kami shalat gerhana, yang tidak biasanya kami menyaksikan hal seperti itu.
Imam masjid pun sudah membaca  lima belas ayat dari surat Al-Baqarah di rakaat yang pertama, saya dan dua anak laki-laki saya belum juga mendapatkan tempat untuk shalat, hingga akhirnya kuputuskan untuk ambil posisi, shalat di atas rumput dekat parkiran mobil. Oleh karena berdesak-desakan dengan orang lain saat menuju masjid, saya khawatir dengan wudhu yang sudah dilakukan di rumah, kemudian kuajak kedua anakku untuk melakukan tayammum terlebih dahulu, karena tidak memungkinkan untuk mengambil air wudhu di masjid yang telah penuh sesak.

Mulailah kami bertiga shalat berjamaah mengikuti imam yang hanya terdengar suaranya dari pembesar suara, ku ambil mushaf dari saku, kemudian kuikuti bacaan imam dalam hati sambil menghayati bacaan imam yang sangat merdu dan syahdu. Lembar demi lembar mushaf kubuka hingga sampailah pada ayat ke 89 surat Albaqarah barulah sang imam mengakhirinya dengan rukuk, sebuah pengalaman yang langka yang kudapat hari itu, karena baru pertama kali shalat dengan berdiri, rukuk, sujud cukup lama.
Belum juga shalat gerhana berakhir anak ketigaku sudah tidak betah dengan kondisinya, pada saat rukuk dia langsung berkata: “Abi..capek, Abi capek”. Memang saat itu imam memanjangkan doanya, jika dihitung sekira lebih dari satu menit hanya untuk rukuk saja. Akhirnya dengan gerakan tangan kuarahkan si Abang (panggilan anak ketigaku) untuk duduk di tempatnya.

Pada saat menjelang sujud, si Abang tambah tidak betah, bahkan mengajak si Aa (sebutan anak keduaku) untuk bermain sambil melihat gerhana. Antara khusyuk dan waspada, pada saat detik-detik cahaya matahari mulai redup dan tertutup mereka malah asyik mengobrol dan bahkan ingin melihat proses tertutupnya matahari oleh bulan. Khawatir dengan kondisi tersebut, akhirnya dengan sigap kuarahkan mereka untuk sujud didetik-detik terjadinya gerhana. Qodarullah, saat itu gerakan imam bertepatan dengan gerakan sujud disaat bumi menjadi gelap oleh sinar matahari.
Pada rakaat yang kedua, si Abang semakin menujukkan “Tantrum”nya. Dia menendang-nendang ke arahku sambil berteriak: “Lapar, lapar”. Saat sujud pun si Abang semakin menunjukkan tingkahnya dengan naik ke pundakku dengan berteriak: “lapar...lapar... Abi lapar...”. Ku akui memang sebelum berangkat ke masjid, kami belum sempat sarapan yang cukup, sehingga kami pun terasa lapar, ditambah dengan kondisi kami sholat di bawah terik matahari yang membuat si Abang tidak nyaman.

Akhirnya sholat pun usai, namun urusan perut belum teratasi. Giliran si Aa yang berkata lapar, untungnya saat itu kami bertemu teman sesama komunitas di BMHS yang dapat mengalihkan rasa lapar anak-anak dengan menyaksikan sisa-sisa gerhana matahari dengan menggunakan kacamata khusus yang dipesan dari Bandung. Sambil mencari anak pertamaku yang gadis di tengah kerumunan jamaah masjid yang sedari masuk ke halaman masjid kami terpisah, akhirnya kujak mereka untuk mencari pengganjal perut, masuklah kami ke dalam mini market milik masjid tersohor di kota Balikpapan itu.

Sesampainya di dalam toko, kami pun tetap harus mengantri untuk membayar barang yang kami beli, si Abang semakin tidak sabar sambil berteriak: “haus...haus”. tanpa pikir panjang, kubuka tutup botol minumannya dan kusodorkan untuk meminumnya, lalu kukatakan: “Abang...minuman ini belum dibayar, kita antri dulu ya...sampai dapat giliran baru kita pulang”. Karena antrian yang panjang, si Abang yang sedari tadi lapar makin tidak sabar, sambil mengeluarkan suara tangisan yang membuat Abinya merasa malu dengan orang-orang seisi toko itu.  

Jurus selanjutnya, kuambil biskuit wijen dari raknya sembari duduk lesehan kami makan biskuit itu sambil menunggu antrian untuk membayar barang yang sudah kami ambil. Tentu saja si Abang tetap harus dinasehati agar bersabar dengan kondisi yang dialami.

Tips agar tidak ‘Kesetrum’:
1.    Hadapi dengan kesabaran, tanpa memberikan reaksi negatif pada anak, hal ini memberikan kesempatan kepada anak untuk dapat menjelaskan apa keingininannya.

2.    Berikan solusi atas permasalahan yang dihadapi anak. Misalnya, tanyakan kepadanya Abang mau apa? Kalau abang nangis terus bisa nggak, selesai masalahnya?

3.    Menepati janji; saat anak anda ingin keinginanya dituruti, dan anda telah sepakat dengan janji itu, maka tunaikanlah janji itu dengan kesepakatan yang telah anda buat.

4.    Meberi nasihat disaat anak anda telah tenang dan lupa dari masalah yang telah diperbuat.

5.    Doakanlah anak-anak anda dalam setiap kesempatan, khususnya sehabis shalat, agar menjadi anak yang Qurrota a’yun.


Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam

4 komentar:

Mahasiswa Abadi mengatakan...

Terima kasih pak Farid Usman...

Mahasiswa Abadi mengatakan...

Terima kasih pak Farid Usman...

Unknown mengatakan...

Ceritanya baru belajar nulis. Terima kasih

de_BLOGan mengatakan...

Assalamualaikum. Sahabat adkah prtemuan khusus yg rutin utk ank2 kita guna mnyalurkan rasa pertemanan mreka yg aman. Trm ksh

Posting Komentar