Menangani anak yang tantrum merupakan ujian
bagi semua orang tua, terlebih jika anak kita seringkali “melakukannya” di
khalayak ramai atau di depan umum. Adakalanya kita merasa malu, kesel, bahkan
marah. Mungkin anda pernah atau sering menghadapi masalah seperti itu, disaat
anda sedang dalam masalah penting, setidaknya pengalaman itu yang ingin kami
bagi dalam jurnal ini. Bagaimana menangani anak yang tantrum tanpa “kesetrum”. Istilah
ini untuk menggambarkan betapa emosionalnya kita ketika anak kita sedang
tantrum.
Sebelum lebih jauh membahas hal ini, ada
baiknya kita tengok pengertian tantrum menurut para ahli. Tantrum adalah hasil dari energi tinggi dan kemampuan
yang tidak mencukupi dalam mengungkapkan keinginan atau kebutuhan "dalam
bentuk kata-kata". Menurut R.J. Fetsch and B. Jacobson dari Colorado State University
Extension yang mengatakan bahwa tantrum biasanya terjadi pada usia 2
sampai 3 tahun ketika anak-anak membentuk kesadaran diri. Balita belum cukup
memahami kata "aku" dan "keinginan dirinya" tetapi sangat
mudah untuk tahu bagaimana memuaskan apa yang diinginkan.
Pagi itu disaat warga Balikpapan sedang
bereuforia dengan peristiwa Gerhana Matahari Total, saya mengajak anak-anak
untuk ikut sholat sunnat gerhana. Tidak seperti biasanya Lapangan Merdeka penuh
sesak dengan lautan manusia, sampai-sampai kendaraan kami tidak bisa menembus
barikade manusia yang berjubel saat itu. Hingga akhirnya kami pun memarkir
kendaraan sedapatnya, dan perjalanan menuju Masjid kami tempuh dengan berjalan
kaki.
Sambil menggerutu dalam hati, kenapa sih kakak
harus bela-belain shalat di Masjid milik Perusahaan BUMN itu?. Padahal di
Masjid dekat tempat tinggal kami juga melaksanakan shalat gerhana, tanpa harus
berdesak-desakan dan terganggu oleh hingar bingarnya orang yang tidak shalat
gerhana. Qodarullah, kami pun tiba di pelataran Masjid yang sudah penuh dengan
lautan manusia, sehingga kami bingung menentukan posisi shaff untuk kami shalat
gerhana, yang tidak biasanya kami menyaksikan hal seperti itu.
Imam masjid pun sudah membaca lima belas ayat dari surat Al-Baqarah di
rakaat yang pertama, saya dan dua anak laki-laki saya belum juga mendapatkan
tempat untuk shalat, hingga akhirnya kuputuskan untuk ambil posisi, shalat di
atas rumput dekat parkiran mobil. Oleh karena berdesak-desakan dengan orang
lain saat menuju masjid, saya khawatir dengan wudhu yang sudah dilakukan di
rumah, kemudian kuajak kedua anakku untuk melakukan tayammum terlebih dahulu,
karena tidak memungkinkan untuk mengambil air wudhu di masjid yang telah penuh
sesak.
Mulailah kami bertiga shalat berjamaah mengikuti
imam yang hanya terdengar suaranya dari pembesar suara, ku ambil mushaf dari saku,
kemudian kuikuti bacaan imam dalam hati sambil menghayati bacaan imam yang
sangat merdu dan syahdu. Lembar demi lembar mushaf kubuka hingga sampailah pada
ayat ke 89 surat Albaqarah barulah sang imam mengakhirinya dengan rukuk, sebuah
pengalaman yang langka yang kudapat hari itu, karena baru pertama kali shalat
dengan berdiri, rukuk, sujud cukup lama.
Belum juga shalat gerhana berakhir anak
ketigaku sudah tidak betah dengan kondisinya, pada saat rukuk dia langsung
berkata: “Abi..capek, Abi capek”. Memang saat itu imam memanjangkan doanya,
jika dihitung sekira lebih dari satu menit hanya untuk rukuk saja. Akhirnya dengan
gerakan tangan kuarahkan si Abang (panggilan anak ketigaku) untuk duduk di
tempatnya.
Pada saat menjelang sujud, si Abang tambah
tidak betah, bahkan mengajak si Aa (sebutan anak keduaku) untuk bermain sambil
melihat gerhana. Antara khusyuk dan waspada, pada saat detik-detik cahaya
matahari mulai redup dan tertutup mereka malah asyik mengobrol dan bahkan ingin
melihat proses tertutupnya matahari oleh bulan. Khawatir dengan kondisi
tersebut, akhirnya dengan sigap kuarahkan mereka untuk sujud didetik-detik
terjadinya gerhana. Qodarullah, saat itu gerakan imam bertepatan dengan gerakan
sujud disaat bumi menjadi gelap oleh sinar matahari.
Pada rakaat yang kedua, si Abang semakin
menujukkan “Tantrum”nya. Dia menendang-nendang ke arahku sambil berteriak: “Lapar,
lapar”. Saat sujud pun si Abang semakin menunjukkan tingkahnya dengan naik ke
pundakku dengan berteriak: “lapar...lapar... Abi lapar...”. Ku akui memang
sebelum berangkat ke masjid, kami belum sempat sarapan yang cukup, sehingga
kami pun terasa lapar, ditambah dengan kondisi kami sholat di bawah terik
matahari yang membuat si Abang tidak nyaman.
Akhirnya sholat pun usai, namun urusan perut
belum teratasi. Giliran si Aa yang berkata lapar, untungnya saat itu kami
bertemu teman sesama komunitas di BMHS yang dapat mengalihkan rasa lapar anak-anak
dengan menyaksikan sisa-sisa gerhana matahari dengan menggunakan kacamata
khusus yang dipesan dari Bandung. Sambil mencari anak pertamaku yang gadis di
tengah kerumunan jamaah masjid yang sedari masuk ke halaman masjid kami
terpisah, akhirnya kujak mereka untuk mencari pengganjal perut, masuklah kami
ke dalam mini market milik masjid tersohor di kota Balikpapan itu.
Sesampainya di dalam toko, kami pun tetap
harus mengantri untuk membayar barang yang kami beli, si Abang semakin tidak
sabar sambil berteriak: “haus...haus”. tanpa pikir panjang, kubuka tutup botol
minumannya dan kusodorkan untuk meminumnya, lalu kukatakan: “Abang...minuman
ini belum dibayar, kita antri dulu ya...sampai dapat giliran baru kita pulang”.
Karena antrian yang panjang, si Abang yang sedari tadi lapar makin tidak sabar,
sambil mengeluarkan suara tangisan yang membuat Abinya merasa malu dengan orang-orang
seisi toko itu.
Jurus selanjutnya, kuambil biskuit wijen dari
raknya sembari duduk lesehan kami makan biskuit itu sambil menunggu antrian
untuk membayar barang yang sudah kami ambil. Tentu saja si Abang tetap harus
dinasehati agar bersabar dengan kondisi yang dialami.
Tips agar tidak ‘Kesetrum’:
1.
Hadapi dengan kesabaran, tanpa memberikan
reaksi negatif pada anak, hal ini memberikan kesempatan kepada anak untuk dapat
menjelaskan apa keingininannya.
2.
Berikan solusi atas permasalahan yang dihadapi
anak. Misalnya, tanyakan kepadanya Abang mau apa? Kalau abang nangis terus bisa
nggak, selesai masalahnya?
3.
Menepati janji; saat anak anda ingin
keinginanya dituruti, dan anda telah sepakat dengan janji itu, maka tunaikanlah
janji itu dengan kesepakatan yang telah anda buat.
4.
Meberi nasihat disaat anak anda telah tenang
dan lupa dari masalah yang telah diperbuat.
5.
Doakanlah anak-anak anda dalam setiap
kesempatan, khususnya sehabis shalat, agar menjadi anak yang Qurrota a’yun.
Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam